Dari Mata Turun ke Hati

October 6th, 2009 by welthan

,wancu003.jpg

Dari Mata, Turun ke Hati

Ada pepatah tua, “Mata
adalah jendela hati”. Yang
jadi pertanyaan, apakah
mata benar-benar
merupakan jendela hati
seseorang? Bila ia orang
baik-baik, apakah matanya
juga mengindikasikan
“baik”? Sebaliknya, bila
ia seorang penipu, apakah
matanya akan
memperlihatkan hatinya
yang kelam itu?
Ada sebuah kisah menarik
mengenai tatapan mata,
pada kasus pembunuhan
brutal berantai dan penuh
teka-teki di daerah San
Fransisco di sekitar akhir
tahun 1960-an hingga
1970-an.

Read more…

Suami Istri Itu Tewas Berpelukan Saat Hendak Selamatkan Anak

October 3rd, 2009 by welthan

_44113261_kotaagungafp416b.jpg
Musibah gempa di Kota Padang
meninggalkan kisah memilukan
bagi keluarga korban ketika Aini
(55) warga Ginung Pangilun
kehilangan anak, menantu dan
cucunya dalam sekejap.
Menurut cerita Aini, Jumat, yang
sehari-hari berjualan di Pasar
Alai Padang, ketika gempa
terjadi dia dalam perjalanan
pulang. Jarak rumah dan pasar
tempat dia berjualan sekitar dua
kilometer. Di tengah jalan
angkot yang dia tumpangi
seperti mau terbalik karena
gempa.

read moree..

”1001 Burung Kertas”

September 18th, 2009 by welthan

recycled-paper-bird-tip-med.jpg

”1001 Burung Kertas”
Wildan dan Elena adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga Elena berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan,sedangkan keluarga Wildan hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan. Dalam kehidupan mereka berdua, Wildan sangat mencintai Elena. Wildan telah melipat 1000 buah burung kertas untuk Elena dan Elena kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Wildan telah menuliskan harapannya kepada Elena. Banyak sekali harapan yang telah Wildan ungkapkan kepada Elena.Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain ,Semoga Tuhan melindungi Elena dari bahaya ,Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia ,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikannya kepada Elena. Suatu hari Wildan melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas itu,Wildan berkata kepada Elena: Elena, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! Saat mendengar Wildan berkata demikian, menangislah Elena. Ia berkata kepada Wildan : Wildan, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku! Saat mendengar itu Wildan pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada Elena. Ia mengatai Elena matre, orang tak berperasaan,kejam, dan sebagainya. Akhirnya Wildan meninggalkan Elena menangis seorang diri. Wildan mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap Elena dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Wildan menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu.Sekarang tak seorangpun tak kenal Wildan, ia adalah bintang kesuksesan. Suatu hari Wildan pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Wildan pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua Elena.Wildan mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Wildan membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua Elena. Wildan sangat terkejut ketika didapati orang tua Elena memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto Elena dalam makam itu. Wildan pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Elena untuk menemui orang tua Elena. Orang tua Elena pun berkata kepada Wildan . Wildan,sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Elena yang terkena kanker rahim ganas. Elena menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.Orang tua Elena menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Wildan. Wildan membacasurat itu. ”Wildan,maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Wildan, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Wildan……………… By Elena.
Setelah membacasurat itu, menangislah Wildan. Ia telah berprasangka terhadap Elena begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati Elena teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Elena kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Elena mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap Elena sebagai orang matre tak berperasan.Elena telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran. Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita..

Selamat Datang Malam “Lailatul Qadar”…

September 9th, 2009 by welthan


10316_1167672749392_1155121824_30542034_7718544_n.jpg

Selamat Datang Malam “Lailatul Qadar”…
Malam Yang Lebih Mulia Dari 1000 Bulan…
Semoga Kita Senantiasa Mendapat Berkah & Magfirah Nya…

“Tatapan Penuh Cinta”….

September 9th, 2009 by welthan

%3D%3Futf-8%3FB%3FaW1hZ2VzLmpwZw%3D%3D%3F%3D-755490
“Tatapan Penuh Cinta”…
Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.
Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.
Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur.
Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata- mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.
Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu… Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya…
Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.
Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu.Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.

read more…